Minggu, 30 Juni 2013


SEJARAH

Dalam sejarahnya, Pondok Pesantren Al Qur’an Nurul Huda berdiri pada tahun 1973 M atas dasar tuntutan dan dorongan kondisi bacaan Al Qur’an di masyarakat yang masih cukup memprihatinkan. Bahkan untuk mencari sosok Hafidz (orang yang hafal Al Qur’an) pada saat itu sangat sulit sekali. Berangkat dari kondisi yang demikian itulah, kemudian pondok Pesantren Al Qur’an Nurul Huda berkembang dan mendapat dukungan positif dan kepercayaan dari masyarakat luas. Dukungan tersebut berasal dari para Kyai, Ulama, Tokoh Masyarakat, serta masyarakat sekitar agar Pondok Pesantren Al Qur’an Nurul Huda dapat membantu memperbaiki kondisi masyarakat menjadi lebih baik dan ideal terutama dalam hal keilmuan Al Qur’an sesuai ajaran nilai luhur agama islam.

Setiap individu pasti membutuhkan cinta dan kasih, sebagian besar manusia akan berpendapat bahwa kasih merupakan sesuatu yang bersifat sakral nan suci. Namun kasih tidak dapat didefinisikan tapi dapat dipraktekkan. Tak dapat digambarkan namun dapat langsung dirasakan.
Berikut 5 bahasa kasih tersebut:

Sabtu, 29 Juni 2013


Sering sekali kita mendengar perkataan orang-orang yang menganggap wanita tak perlu mengenyam pendidikan tinggi, jika pada akhirnya tugasnya hanyalah menjadi pengurus rumah tangga. Perkataan seperti ini memang sudah basi, tapi kenyataannya masih banyak saudara-saudara perempuan kita  yang menganut kepercayaan ini.

Bisa jadi, ini hanyalah produk dari kemalasan mereka untuk terus belajar, atau bisa jadi pula ini adalah produk dari pemikiran mereka yang belum bisa merealisasikan ilmu yang telah mereka cari dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sungguh sayang sekali, jika sebagai muslimah ciptaan Allah SWT kita juga ikut  mengekor pada penganut kepercayaan ini.

Dalam pertapaannya, seorang pendeta melihat jin yang tengah ketakutan di dalam gua. Lantas ia pun bertanya pada jin tersebut.

“Hai jin, sedang apa kamu di sini?”

“Saya sedang berlindung dari kejahatan manusia,” jawab jin gemeteran.

Pendeta merasa bingung, dan berkata, “Bukankah kalian yang sering mejahili manusia, kenapa sekarang berbalik kalian yang menjadi takut?”

Jumat, 28 Juni 2013


Beberapa saat yang lalu, ada seorang teman yang mengirim pesan kepada saya melalui inbox Facebook. Ia memberi sebuah link tulisan dan menanyakan apa maksud dari tulisan itu. Setelah saya amati dan baca, ternyata tulisan tersebut mengkritisi pemerintahan Indonesia dan menolak NKRI bersyariah. Penulis mengganggap Pancasila hanyalah kekonyolan yang sengaja dibuat oleh Bung Karno untuk membodohi rakyat Indonesia. Pancasila bukanlah dasar bangsa yang ideal untuk Indonesia. Penulis juga mengajak khalayak agar tidak tertipu dan mengikuti hawa nafsu. Namun yang membuat saya terpingkal-pingkal, di akhir tulisan penulis tidak sama sekali memberikan solusi yang memecahkan ‘masalah’ yang dianggap penulis ‘bermasalah’.